Sambil menyelam minum air, sambil bertugas disempatkanlah
wisata...
Begitu kira-kira peribahasa paksaan yang berlaku saat ini...
Karena memang kunjungan saya ke Sumatera Barat kali ini sama sekali bukan untuk
niat berlibur, tapi murni karena tugas kantor. Berhubung ini pertama kalinya
saya menginjakkan kaki di tanah Minang, rasa ingin tau untuk menjelajah tempat
baru rasanya tak terbendung..., maka disempatkanlah berpetualang di sela waktu
meeting yang padat... Alhasil kunjungannya pun kurang maksimal, karena
terbentur waktu. But anyway I still could have fun and share something to you
all... ;D
Mendengar kata Padang, yang terlintas adalah sedapnya nasi kapau, pedasnya
kripik sanjay, kisah cinta Siti Nurbaya yang melegenda, dongeng Malin Kundang,
dan banyak lainnya yang melintas di kepala...; berharap semua bisa dicicip,
didapat, dikunjungi, tapi tetep nahan ngarepnya jangan banyak-banyak, karena
kunjungan kali ini adalah untuk KERJA! #tepokjidat :p
Hari Satu:
Hangatnya sinar mentari pagi menyambutku saat mendarat di
Minangkabau International Airport. Tujuan pertama adalah Basko Hotel, salah
satu hotel bintang 4 yang terletak di pusat Kota Padang. Lokasinya menempel
dengan Mall Basko, satu-satunya mall di Kota Padang. Selesai check in dan
mempersiapkan materi untuk meeting, saya langsung lompat ke Mall Basko, bukan
untuk belanja atau jalan-jalan, tapi untuk survey lokasi event dan rapat
koordinasi dengan humas mall.
Selesai urusan dengan pihak venue, lanjut meluncur ke kantor
client untuk meeting berikutnya. Namun ternyata sesampainya di sana tidak ada
pihak yang dapat ditemui. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi dan kembali lagi
nanti. Tidak ingin membuang kesempatan, sambil menunggu waktu meeting dengan
client, sayapun memutuskan untuk mengunjungi Pantai Air Manis, tempat
dikutuknya Malin Kundang menjadi batu.
Pantai Air Manis – Batu Malin Kundang
![]() |
Pantai Air Manis |
Pantai Air Manis terletak
di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Jalan menuju lokasi cukup baik,
dan dapat dilalui kendaraan roda 4, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari
pusat Kota Padang. Untuk mencapai Pantai Air Manis bisa naik angkutan umum
dengan trayek Padang – Bungus dari Plaza Sentral Pasar Raya.
Pantai Air Manis memiliki
bibir pantai yang luas dan landai, dengan pasir kecoklatan. Gulungan ombak yang
tak terlalu tinggi, dan semilir angin yang lembut membuat pantai ini enak
sebagai tempat belajar surfing atau piknik bersama keluarga.
Di pantai inilah terdapat
puing-puing kapal Malin Kundang yang berubah menjadi batu, dengan sosok batu
Malin yang tampak sedang sujud di atas kapalnya. Menurut masyarakat setempat,
situs ini pernah rusak karena banjir besar, sehingga kemudian dilakukan
renovasi. Mungkin itulah sebabnya batu ini tidak tampak natural.
Di Pantai Air Manis ini
juga tersedia penginapan yang dikelola oleh masyarakat setempat, sehingga harga
sewa tidak terlalu mahal. Jangan khawatir juga jika kelaparan, karena sepanjang
pantai terdapat warung makan untuk bersantap atau sekedar menikmati segelas
kopi sambil menikmati keindahan pantai dan lembutnya semilir
angin....Sedapnyaaa.... :D
![]() |
Pantai Air Manis |
![]() |
Batu Malin Kundang |
![]() |
Kapal Malin Kundang |
Pulau Pisang
Tak jauh dari tepi pantai
Air manis, terdapat pulau kecil, bernama pulau pisang. Pulau ini tak
berpenghuni. Kira-kira berjarak sekitar 150 – 200 meter dari pinggir pantai Air
Manis. Jika air tidak pasang, kita bisa berjalan kaki menyebrang menuju Pulau
Pisang ini. Dan itulah yang saya
lakukan; menggulung celana, menyebrang menuju Pulau Pisang. Air saat itu
sebatas betis, semakin ketengah semakin tinggi hingga mencapai lutut. Cukup
membuat panik, mengingat setelah ini saya masih harus bertemu client, dan tidak
ingin terlihat basah kuyup. :p
Saya tidak menemukan
sesuatu yang spesial atau berbeda di pulau ini, selain pohon kelapa, dan sebuah
pondok kecil. Tapi saya bisa menikmati keindahan laut dari sisi yang berbeda
dari Pantai Air Manis tadi, dan jauh lebih indah selain juga lebih tenang
karena tidak berpenghuni. Sampai saya nyaris lupa waktu, terlalu menikmati
duduk di pinggir karang memandang indahnya laut.
![]() |
Pemandangan dari Pulau Pisang |
![]() |
Pantai di Pulau Pisang |
![]() |
Pulau Pisang |
***
Dari pantai saya kembali
menuju kantor client untuk meeting. Senja sudah mulai turun saat saya kembali
ke Basko untuk beristirahat. Namun baru saja turun dari mobil, saya bertemu
dengan teman humas Basko yang menawarkan diri untuk mengajak saya berkeliling
Kota Padang. Pucuk dicinta ulam tiba,
tidak mungkin saya tolak jasa seorang ‘guide’ lokal. Perjalananpun
berlanjut.... :D
Jembatan Siti Nurbaya
Salah satu karya sastra
terkenal sepanjang masa yang berlatang belakang tanah Minang adalah kisah Siti
Nurbaya. Hingga pemerintah setempat menamai sebuah jembatan di Kota Padang ini
dengan sebutan Jembatan Siti Nurbaya. Tidak ada yang tau pasti apakah kisah
dalam novel Marah Rusli itu berdasarkan kisah nyata atau hanya fiksi semata,
namun di dekat lokasi ini, di Gunung Padang, terdapat sebuah makam yang
dipercaya sebagai makam Siti Nurbaya.
Dari segi konstruksi bangunan,
tidak ada yang istimewa dari jembatan Siti Nurbaya yang dibangun untuk
menghubungkan Gunung Padang dan Kota Padang ini. Biasanya jembatan ini akan
ramai menjelang senja, karena orang-orang bisa menikmati keindahan matahari
terbenam dari atas jembatan, memandangi lereng Gunung Padang yang penuh kerlip
lampu dari pemukiman penduduk, atau permukaan air Sungai Batang Arau yang
mengalir di bawah jembatan. Semakin malam, jembatan ini semakin ramai oleh anak
muda yang menghabiskan waktu bersama teman-temannya, sekedar duduk santai atau
menikmati kuliner jalanan yang dijajakan di sepanjang jembatan.
![]() |
Jembatan Siti Nurbaya di malam hari |
Pantai Padang - Taplau (Tapi Lauik)
Pantai Padang berada di
pusat Kota Padang. Pantai ini memiliki garis pantai yang panjang dengan satu
sisi berlatar pemandangan Gunung Padang.
Karena hari sudah malam,
kedatangan saya ke Taplau (Tepi Laut) ini bukan untuk menikmati keindahan
pantai, namun untuk berburu makanan, mengisi perut yang kosong... :D
Terdapat banyak warung
tenda berjejer di tepi pantai, terutama pantai di depan Taman Budaya. Mulai
dari minuman dingin, es kelapa muda, kacang rebus, rujak khas Padang, atau
pisang bakar, semua ada di Taplau ini. Di sekitar pantai ini juga terdapat
jejeran warung seafood, mulai dari yang lesehan sampai rumah makan seafood
mewah. Salah satu yang terkenal adalah rumah makan seafood FUJA. Bukan Cuma rasanya
yang mantab, harganyapun bersahabat. Itulah sebabnya Fuja selalu terlihat lebih
ramai dari rumah makan seafood lainnya di sekitar lokasi. Jangan salah memilih
restoran, tanyakan dulu kepada pelayan jika tidak tercantum harga pada daftar
menu. Jangan sampai anda kaget dengan jumlah yang harus dibayar setelah makan
selesai.
Monumen Gempa
![]() |
Monumen Gempa |
Dalam perjalanan kembali
ke hotel, saya sempat diajak mampir ke taman kota yang bernama Taman Melati di
Jalan Bundo Kanduang, dimana terdapat Monumen Gempa. Monumen ini dibangun
sebagai pengingat akan tragedi gempa berkekuatan 7,9 skala richter yang telah
meluluhlantakkan bumi Padang pada tanggal 30 September 2009 silam. Lebih dari
seribu nyawa terenggut dalam tragedi tersebut. Pemerintah setempat berencana
mengukir nama seluruh korban jiwa dalam prasasti di Monumen Gempa tersebut, dan
saat ini sudah lebih dari 300 nama
terukir di sana.
Hari yang melelahkan dan
padat. Dimulai dengan penerbangan di pagi hari, kerja dan wisata. Membuat
laporan, mengirim email dan menyusun perencanaan esok hari sebelum tidur
nyenyak... zzzzz....zzzzz
Hari Dua:
Hari ini judulnya rally
meeting. Jadwal padat dari pagi hingga sore. Hari yang sangat produktif.
Setelah malam tiba barulah
saya bisa sedikit bersantai. Namun jangan berharap dapat menikmati keramaian
atau hiburan apapun di Kota Padang ini setelah matahari terbenam. Tidak ada
tempat seperti itu di sini, malam berarti sunyi, sepi.... Lalu kemana saya
pergi? Kuliner..., mencicipi selera lokal ;)
Ayam Goreng “Pagi Sore”
Rumah makan ini sangat
sederhana, menyajikan nasi padang pada umumnya. Namun satu hidangan yang paling
favorit adalah ayam gorengnya. Ayam kampung berukuran kecil, dengan tektur
daging yang empuk, rasa yang gurih, renyah dan legit. Satu takkan cukup..., kalian
bisa menghabiskan sepiring ayam goreng sendiri. Gak percaya? Silakan coba dan
buktikan sendiri... Rumah Makan Pagi Sore ini bisa kamu temukan di Jalan
Pondok, No 143, Taman Area – Padang. Rumah makan yang dikelola oleh Hajjah
Rostina ini merupakan usaha yang diwariskan turun temurun. Rasa ayam gorengnya
bisa dikatakan cukup melegenda, walau tampilan rumah makannya sangat sederhana.
Selain ayam goreng, cicipi juga rendang dagingnya yang gak kalah mantabz.
![]() |
Ayam Goreng "Pagi Sore" |
Es Durian “Ganti Nan Lamo”
Kalau kamu suka durian,
jangan sampai lewatkan yang satu ini: Es Durian Ganti Nan Lamo. Rasanya
bener-bener maknyuuuusss bangeett... Lembut, manis, legit, duuuh susah
dilukiskan kata-kata. Durian Padang itu tobz banget lah rasanya... Silakan
datang dan cicipin sendiri di Jalan HOS. Cokroaminoto No. 31B atau di Jalan
Pulau Karam No. 103B. Buat kamu yang gak suka durian, jangan khawatir... ada
pilihan aneka es lainnya yang gak kalah enaknya.
Kripik Sanjay “Sarinah”
Siapa yang gak tau kripik
sanjay? Oleh-oleh paling dinanti siapapun yang pergi ke Padang. Ada banyak merk
kripik sanjay namun yang paling popular dan banyak dicari adalah merk “Christine
Hakim”. Tapi ternyata ada satu merk yang menurut saya rasanya gak kalah enak,
lebih enak malah..., renyah, pedasnya pas di lidah, namanya “Sarinah”. Saya
tidak membelinya di toko, tapi langsung ke rumah sang pembuatnya. Rumahnya agak
terpencil dan sulit untuk menggambarkannya. Inilah untungnya punya “guide”
orang lokal yang bisa membawa kita mengenal selera lokal lebih baik. Sayangnya
saya lupa bertanya ke toko mana saja kripik Sarinah ini dipasarkan....
To be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar